Apa itu Maskulin? Pengertian dan Efek Stereotip Maskulinitas

Bukan sebuah hal yang baru kalau kata maskulin adalah sebuah lambang pria berotot. Namun apakah benar menurut kamu besar bahasa Indonesia (KBBI)?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia maskulin adalah sebuah kata sifat, tetapi bisa berupa kata benda.

Berikut ini adalah contoh penggunaanya menurut KBBI:

  1. [a]Bersifat Jantan, contoh: Laki-laki yang yang memiliki jambang dan brewok akan telihat lebih maskulin.
  2. [n]Untuk kata bendanya, jenis laki-laki.

KBBI menggambarkan sebuah contoh, bahwa maskulin adalah sebuah sifat yang dimatkan pada laki-laki dengan ciri tertentu.

Meskipun begitu, sepertinya saat ini pengertian baku dari kamus besar bahasa Indonesia tidak dapat dijadikan patokan lagi. Karena banyak masyarakat dan generasi milenial yang sudah tidak menganggap maskulin sebagai pria berotot, dan punya banyak bulu.

Berdasarkan hasil riset dan study, generasi milenial memberikan gambaran baru mengenai apa itu maskulin.

Melansir dari Dailymail, Selasa (4/12/2018) lewat sebuah studi yang melibatkan 630 lelaki berusia 15 hingga 29 tahun.

Lelaki milenial memberikan pendapat bahwa ciri-ciri maskulin yang identik dengan kekuatan fisik, dan mental dianggap kurang terlalu penting lagi.

Tapi justru sebaliknya, ciri-ciri dan makna maskulin untuk saat ini yang paling relevan adalah lelaki harus bisa bersikap terbuka, empati, hidup sehat, murah hati, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Perlu diketahui juga, survei ini hanya mencakup lelaki Kanada, dimana Kanada cukup memiliki reputasi sopan santun dan sadar sosial.

Tetapi para peneliti mengatakan bahwa tampaknya ada pergeseran generasi umum dalam nilai-nilai kemaskulinan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Psychology of Men & Masculinity itu tidak hanya menilai bagaimana pendapat lelaki milenial tentang makna maskulin saja. Tetapi juga ingin menelusuri lebih jauh tentang dampaknya bagi kesehatan.

Fakta yang jarang disadari oleh Laki-laki dan Wanita bahwa maskulinitas tidak mengenal gender. Ternyata yang demikian adalah sebuah stereotip yang dibangun oleh masyarakat.

Dan gilanya, stereotip ini punya efek yang serius bagi kamu laki-laki.

Kedepan akan ada masalah baru yang timbul setelah banyak yang mengartikan maskulinitas dengan arti yang sempit. Masalah tersebut saat ini disebut dengan toxic masculinity.

Apa itu Toxic Masculinity?

Toxic masculinity adalah anggapan sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Orang yang disebut toxic masculinity biasanya menganut paham bahwa kekerasan, agresif secara seksual, dan menutupi emosi (khususnya sedih dan tangis) adalah sifat wajib yang harus dimiliki pria untuk menjadi lelaki yang “seutuhnya”.

Pengertian yang sama juga diungkapkan oleh sebuah studi yang dimuat dalam Journal of School Psychology. Menurut studi tersebut, toxic masculinity diartikan sebagai kumpulan sifat maskulin dalam masyarakat yang ditujukan untuk mendorong adanya dominasi, kekerasan, merendahkan perempuan, hingga homofobia.

Pengertian toxic masculinity memang sesuai dengan makna harfiahnya, yakni maskulinitas ‘beracun’. Artinya, orang yang menunjukkan perilaku ini memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan standar maskulinitas pada diri seorang laki-laki.

Ciri-ciri Toxic Masculinity

Supaya bisa lebih memahami perilaku ini, berikut sejumlah ciri toxic masculinity yang umum ditemui:

  • Punya pandangan bahwa laki-laki tidak seharusnya mengeluh dan menangis
  • Cenderung bersikap kasar terhadap orang lain
  • Ingin mendominasi orang lain
  • Agresif bahkan kasar secara seksual terhadap pasangan maupun orang lain
  • Laki-laki tidak perlu membela hak perempuan dan kaum marjinal lain
  • Menganggap ‘keren’ tindakan-tindakan yang berisiko, seperti berkendara dalam kecepatan tinggi, minum alkohol, dan bahkan mengonsumsi obat-obatan terlarang
  • Menganggap bahwa kegiatan memasak, menyapu rumah, berkebun, dan mengasuh anak adalah tugas perempuan

Cara Mencegah Perilaku Toxic Masculinity?

Ada beberapa Cara efektif untuk mencegah toxic masculinity. Salah satunya adalah adalah mengedukasi anak sejak dini, khususnya anak laki-laki.

Berikut ada sejumlah tips yang bisa Anda terapkan pada si Kecil:

  • Sampaikan bahwa tidak ada salahnya bagi anak laki-laki untuk menunjukkan rasa sedih dan menangis, serta mengungkapkan segala keluh kesah yang dirasakan
  • Ajarkan pada anak untuk tidak mengucapkan kata-kata yang terkesan merendahkan perempuan seperti, “cara jalanmu seperti perempuan” atau “cara berbicaramu seperti perempuan”
  • Kenali konsep konsensual sejak dini dengan menyesuaikan umur anak laki-laki Anda. Misalnya, beritahu bahwa setiap orang butuh kesepakatan dan persetujuan dari lain pihak jika hendak melakukan sesuatu yang melibatkan pihak lain.
  • Anda juga bisa memberi pemahaman bahwa tubuh setiap orang adalah milik orang tersebut, sehingga ia tak bisa sembarangan menyentuh atau memeluk tanpa izin dari orang yang bersangkutan.
  • Hati-hati dan selalu pantau anak Anda ketika tengan mengakses konten hiburan. Apabila Anda melihat adanya elemen toxic masculinity di dalam konten hiburan tersebut, entah itu buku atau film, Anda bisa memberikan pemahaman bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang patut untuk dicontoh.

Demikianlah kira-kira penjelasan singkat mengenai apa itu maskulin. Yang ternyata tidak dapat diartikan dalam arti yang sempit.

Tinggalkan komentar